TERIMA KASIH atas kunjungan ANDA *** adada-ja merupakan blognya nugi *** blog ini bertujuan untuk berbagi dan semoga bermanfaat *** serta SORRY pada semua jika isi pada blog ini banyak yang mengandung copy-paste *** JANGAN LUPA BERKUNJUNG KEMBALI YAH... :)

Google Search
Welcome to my Blog

Join ke FACEBOOK saya?? Silahkan klik Animasi Imagenya
atau mau Chating dengan saya, klik icon YM-nya
silahkan follow @adanugi


Mau Tau Rahasia Bisnis Hebat? Buruan GRATIS Lho!! KLIK DISINI

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia



Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : Kenapa pundakmu itu ? Jawab anak muda itu : Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya. Lalu anak muda itu bertanya: Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ? Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. Kamu berdoa sudah bagus, kata Nabi SAW, Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).


(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana, sedikit diedit oleh Penjaga Kebun Hikmah)
READ MORE - Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Pola Pikir


Sebelum sang ayah menghembuskan nafas terakhir, dia memberi pesan kepada kedua anaknya, “Anakku, ada 2 pesan penting yang ingin ayah sampaikan kepada kalian untuk keberhasilan hidupmu. Pertama, jangan pernah menagih piutang kepada siapapun. Kedua, jangan pernah tubuhmu terkena terik sinar matahari secara langsung.”

Sang anak pun bingung dengan pesan ayahnya, dan akhirnya sang Ayah pun pergi untuk selama-lamanya.

Lima tahun berlalu, sang ibu pun menengok si bungsu dengan kondisi bisnisnya yang sangat memprihatinkan, sang ibu pun bertanya “Wahai anak bungsuku kenapa kondisi bisnismu demikian?”

Si bungsu menjawab: “Aku mengikuti pesan ayah, Bu.. Saya dilarang menagih piutang ke siapa pun sehingga banyak piutang yang tidak di bayar dan lama-lama habislah modal saya, yang ke-2 ayah melarang saya terkena sinar matahari secara langsungg dan saya hanya punya sepeda motor, itulah sebabnya pergi dan pulang saya selalu naik taxi.”

Kemudian sang ibu pergi ke tempat si sulung kali ini keadaan berbeda jauh si sulung sukses menjalankan bisnisnya. Sang ibu pun bertanya, “Wahai sulung kenapa hidupmu sedemikian beruntung?”

Sulung pun menjawab, “Ini karena aku mengikuti pesan ayah, Bu.. Yang pertama saya dilarang menagih piutang kepada siapapun. Oleh karena itu saya tidak pernah memberikan utang kepada siapapun sehingga modal saya tetep utuh. Kedua saya dilarang terkena sinar matahari secara langsung, maka dengan motor yang saya punya saya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Sehingga para pelanggan tahu toko saya buka lebih pagi dan tutup lebih sore.”

Note: Si Sulung dan Si Bungsu menerima pesan yang SAMA, namun masing2 memiliki sudut pandang / MINDSET berbeda. Mereka MELAKUKAN cara yang berbeda sehingga mendapatkan HASIL yang berbeda pula.

Hati2lah dengan Mindset kita. (sumber my bbm)
READ MORE - Pola Pikir

Telaga Hati


Suatu hari seorang tua bijak didatangi oleh seorang pemuda yang sedang dirundung masalah dan tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan, “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua “Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya ?” “Segar”, sahut si pemuda. “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?” tanya pak tua “Tidak, ” sahut pemuda itu. Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.

Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”. Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupandengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik”.

Dari sebuah email, semoga bermanfaat...Salam Sukses...
READ MORE - Telaga Hati

Renungan (2)


Ada cerita tentang seorang tukang yang telah bekerja selama puluhan tahun dan ingin pensiun. Ketika ia pamit, kontraktor yang mempekerjakannya memintanya untuk membuatkan sebuah rumah lagi. Si tukang yang sudah sangat ingin pensiun, tak begitu senang mendapat tugas terakhir ini. Maka, ia bekerja setengah hati. Ia tak sungguh-sungguh memilih material maupun mengerjakan bagian-bagiannya. Pokoknya ia ingin segera selesai dan bebas tugas. Maka, rumah itu tak memiliki kualitas terbaik yang sebenarnya bisa ia berikan. Begitu rumah itu jadi, segera ia serahkan kuncinya kepada si kontraktor. Namun, si kontraktor mengembalikannya lagi kepada si tukang, dengan ucapan, “Terimalah, rumah ini adalah hadiah untukmu dan keluargamu.” Betapa menyesal si tukang, sebab jika ia tahu rumah itu akan ia tempati, pasti ia membangunnya dengan cara yang sangat berbeda!!!

Kehidupan yang kita bangun tiap-tiap hari, ibarat rumah yang kelak akan kita tinggali. Maka bahan dan cara yang kita pakai saat membangun, merupakan tanggung jawab dan pilihan pribadi kita. Pertanyaannya, sudahkah kita selalu memberi pemikiran terbaik, usaha terbaik, serta keputusan terbaik ketika membangun hidup ini, sehingga kita mencapai tujuan Tuhan menciptakan kita ? Kita tak ingin menyesal melihat hidup kita kelak, mari memulai hari ini dengan melihat tujuan akhir. Mari capai tujuan akhir kita dengan pengabdian terbaik setiap hari! HIDUP MENCAPAI TUJUAN TERBAIK KETIKA HATI MAU MEMPERSEMBAHKAN YANG TERBAIK:)

Dari sebuah broadcast bbm, semoga bermanfaat.....Salam Sukses...
READ MORE - Renungan (2)

Renungan

Renungan....
Seorang anak terlahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut berumur 2 tahun, suatu pagi si ayah melihat satu botol obat yang terbuka. Dia merasa sudah terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya dilemari. Istrinya, karena kesibukannya didapur, sama sekali lupa hal tersebut. Anak itu pun melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut, lalu memakannya semua. Obat tersebut obat keras yang bahkan untuk orang dewasapun hanya dalam dosis kecil saja. Si istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Si istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya. Ketika si suami datang ke RS dan melihat anaknya telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu?
2. Apa makna cerita ini?

JAWABAN :
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG".
Reaksi suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri. Lagi pula seandainya dia menyempatkan menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tidak akan terjadi. Tidak ada yang perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yang diberikan suaminya sekarang. Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil".
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
MORAL CERITA:
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita lebih sering membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan orang lain / siapa yang salah dalam sebuah hubungan / dalam pekerjaan / dengan orang yang kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.. semoga bermanfaat..
READ MORE - Renungan

Kumpulan Ringtone Gratis

READ MORE - Kumpulan Ringtone Gratis

Renungan Bersama 6 Pertanyaan


Berikut adalah 6 pertanyaan yang dapat dijadikan renungan
1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?
3. Apa yang paling besar di dunia ?
4. Apa yang paling berat di dunia ?
5. Apa yang paling ringan di dunia ?
6. Apa yang paling tajam di dunia ?

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya....

Pertama : “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya". Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Kedua : "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang - bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga : "Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab, "gunung, bumi dan matahari". Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat : "Apa yang paling berat di dunia ini?"
Ada yang menjawab "besi dan gajah". Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima : "Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan". Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "MENINGGALKAN SHOLAT". Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermufakat kita meninggalkan sholat.

Keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. (banyak sumber)
READ MORE - Renungan Bersama 6 Pertanyaan

BERHENTI SAAT DIPUNCAK - (STOP at THE TOP)


Hari ini semua Anggota Dewan Perwakilan Malaikat sedang melakukan rapat untuk membahas cara-cara mati yang baru bagi daftar nama manusia yang akan mati di bulan berikutnya. Tiba-tiba semuanya dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka dengan kerasnya, disusul kemudian sosok malaikat yang tengah lari tergesa-gesa sambil meneriakkan interupsi...interupsi...yang mulia! ternyata sosok yang disangkanya malaikat tadi adalah merupakan asisten pribadi dari malakat kematian atau pencabut nyawa.

"Ada apa assisten, kau mengejutkan kami semua, sehingga rapat ini menjadi terganggu, tanya malaikat pimpinan rapat. "maafkan saya yang mulia, karena ada seorang manusia yang sudah seharian terus berdoa dan dalam doanya tersebut manusia itu meminta kematiannya hari ini yang mulia," jawab sang assisten dengan wajah yang sangat serius.

"Hah...manusia mana yang meminta segera kematiannya dalam doanya, begitu sengsarakah kehidupan manusia tersebut di dunia," tanya malikat dengan penuh tanda tanya.

"Sungguh mulia manusia itu, dia sangat dermawan karena hidupnya bergelimang harta. Ia pun berilmu tinggi dan tak segan-segan mengamalkan ilmunya tersebut. Kekuasaan yang dimilikinya tak digunakan sewenang-wenang melainkan ia sangat adil dalam setiap sikap perbuatan dan keputusannya. Tidak hanya itu, manusia tersebut juga memiliki anak dan istri yang soleh. Setiap hari dari pagi hingga istirahat malamnya, hati manusia itu selalu berzikir mengingat nama Tuhan memohon ampunan tanpa henti. Tidak ada yang buruk darinya yang mulia," cerita sang assisten dengan bersemangat.

Semua malaikat yang ada di ruang itu pun diam termenung memikirkan mengapa manusia itu berdoa meminta kematiannya hari ini.

Kemudian pimpinan rapat malaikat menyuruh kepada salah satu malaikat yang ada untuk turun ke dunia dan menanyakannya secara langsung.

Ternyata benar apa yang diceritakan oleh sang assisten, malaikat tengah melihat seorang manusia yang dengan khusyuknya berdoa.

"Mohon maaf mengganggu waktu anda wahai hamba yang baik," sapa si malaikat utusan.
Hamba tersebut pun tersenyum, nampaklah wajah yang sangat bersinar. Dari raut wajah yang terlihat sang malaikat utusan memperkirakan bahwa hamba tersebut belumlah paruh baya usianya. "Perkenankan saya bertanya, mengapa anda memohon mati dalam doa mu, padahal kehidupan anda sanagt baik," lanjut sang malaikat.

"wahai malaikat, saya berpikir inilah waktu yang tepat, waktu yang terindah bagi hamba untuk mati dan menghadap Tuhan ku," jawab manusia itu.

"inilah waktu yang terbaik dan terindah bagi hamba, dimana seluruh sendi kehidupan hamba dalam kebaikan. Harta hamba sudah sangat berlimpah ruah, dan hamba pun sangat berilmu dan berkuasa sehingga hamba dapat senantiasa beramal dan beribadah dalam kekhusyuk'an yang amat menggetarkan, hamba pun sangat bersyukur karena memiliki anak dan istri soleh, hamba sangat bahagia dengan kehidupan keluarga hamba....," manusia tersebut terus menceritakan seluruh keindahan kehidupannya, bak air bah ceritanya pun dituturkan tanpa henti. Sang malaikat pun terpana dengan cerita manusia tersebut, karena belum pernah dijumpainya ada seorang manusia dengan penuh rasa syukur dalam hidupnya.

"Wahai malaikat, karena itulah hamba memohon kematian hamba di hari ini. Telah banyak yang hamba saksikan dari kehidupan manusia lainnya, ketika mereka dengan segala nikmat seperti yang hamba miliki, akan tetapi sebagian dari mereka malah bertambah rakus atas kenikmatan yang diraihnya, bertambah haus atas kekuasaan yang didapatnya dan menjadi bertambah dahaga ketika menjadi kaya raya dan semakin terpana dengan segala kehebatannya, serta tak sedikit yang hamba saksikan sebagian dari mereka di ahir hayatnya dalam kesendirian dan ketidak berdayaan, tanpa teman, tanpa sahabat, sanak keluarga pun pergi menjauhi ketika mereka sudah tak berharta, dan tak berkuasa, dimana pengaruhnya sudah tak didengar lagi," suara manusia ini saat bercerita sangat mantap dan penuh dengan keyakinan.

Secara perlahan manusia itu merangkulkan tangannya di pundak sang malaikat. "Hanya kepada engkau Tuhan menganugerahkan konsistensi tanpa cabaan sedikitpun, sedangkan kepada kami manusia sepertiku Tuhan memberikan kebebasan terhadapa berbagai godaan dan pilihan. Aku tidak yakin, apakah hamba akan masih dalam rasa syukur yang amat sangat saat Tuhan mencabut semua nikmat ini. Hamba takut menjadi tak bersyukur dan mati karenanya."

Sang malaikat masih saja terpana. Dari kursi singgasanaNYA Tuhan tersenyum menyaksikan percakapan hambanya dengan si malaikat. Dengan segala kuasaNYA Tuhan berbisik kepada sang malaikat, "biarkan dia hidup lebih lama lagi, karena AKU masih ingin menikmati keindahan amalnya."
READ MORE - BERHENTI SAAT DIPUNCAK - (STOP at THE TOP)

balik lanjut depan
Subscribe

Fans Box

adada-ja on Facebook
The On Demand Global Workforce - oDesk

  © adanugi templates

baby
Photobucket