TERIMA KASIH atas kunjungan ANDA *** adada-ja merupakan blognya nugi *** blog ini bertujuan untuk berbagi dan semoga bermanfaat *** serta SORRY pada semua jika isi pada blog ini banyak yang mengandung copy-paste *** JANGAN LUPA BERKUNJUNG KEMBALI YAH... :)

Google Search
Welcome to my Blog

Join ke FACEBOOK saya?? Silahkan klik Animasi Imagenya
atau mau Chating dengan saya, klik icon YM-nya
silahkan follow @adanugi


Mau Tau Rahasia Bisnis Hebat? Buruan GRATIS Lho!! KLIK DISINI

Jero Wacik pun Jengkel



MENTERI Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik, benar-benar hilang kesabaran terhadap sikap Malaysia yang doyan mengklaim maupun memanfaatkan budaya Indonesia untuk iklan pariwisata tanpa seizin Indonesia.

Usai rapat bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2009), Jero pun mengungkapkan kekesalannya.

Bagaimana tidak kesal. Malaysia seenaknya menggunakan tari pendet dalam iklan pariwisata mereka di program Discovery Channel berjudul “Enigmatic Malaysia”. Iklan ini merupakan judul dari enam film dokumenter yang diproduksi KRU Studios Production untuk memperingati kemerdekaan Malaysia.

Namun ketika Jero mempertanyakannya dan menyampaikan nota protes, Pemerintah Malaysia dengan enteng berkilah bahwa pembuatan iklan promosi itu tanpa sepengetahuan pemerintah dan tidak ada kaitannya dengan iklan pariwisata pemerintah.

Belakangan mereka mencabut tayangan iklan tersebut. Kemudian KRU Studios Production yang merupakan rumah produksi di Malaysia, menyampaikan permohonan maaf kepada Jero sekaligus kepada Pemerintah Indonesia.

Namun permintaan maaf itu justru membuat Jero makin tersinggung, karena hanya disamaikan melalui surat elektronik (email). “Kok pakai email. Minta maafkan ada etikanya juga,”tukas Jero. Dia mendesak permintaan maaf langsung dari Pemerintah Malaysia atas klaim tari pendet itu. “Saya mau dengar dari pemerintahnya dulu,” katanya.

Pria asal Singaraja, Bali, itu menambahkan, kejadian semacam ini bukan yang pertama kalinya terjadi, dan rakyat Indonesia sudah sangat gondok karena Malaysia sering mengulangi kesalahan yang sama. “Dulu lagu Rasa Sayange, lalu lagu Indang Bariang, kemudian kesenian reog Ponorogo, dan sekarang tari pendet,” sesal Jero.

Menurut Jero, sikap Malaysia tidak etis dan melanggar kesepakatan. Dia menuturkan, dua tahun lalu Indonesia dan Malaysia telah menandatangani kesepakatan guna menghindari klaim budaya semacam itu. “Jika ada karya-karya budaya yang berada di grey area atau tidak jelas apakah milik Indonesia atau Malaysia, hendak dijadikan iklan komersial oleh salah satu pihak, maka wajib hukumnya untuk saling memberitahu,” ujar Jero mengenai isi kesepakatan tersebut.

Jero menyimpulkan bahwa Malaysia telah melanggar kesepakatan tersebut. Pelanggaran ini dinilai semakin parah, karena tari pendet dianggap Depbudpar tidak masuk ke wilayah abu-abu tersebut. “Jika tari pendet ditarikan di hadapan dunia, tidak ada seorang pun yang ragu bahwa tari itu berasal dari Bali,” tukasnya.

Sehingga dia menegaskan bahwa tari pendet jelas milik Indonesia dan Malaysia seharusnya meminta izin kepada Indonesia bila hendak menggunakan dalam iklannya.”Jelas-jelas ada pelanggaran etika di sana,” tegas Jero.

Padahal, Indonesia sudah berkali-kali melayangkan nota protes ke Malaysia terkait kebiasaan mereka mengklaim produk budaya Indonesia. Bahkan pada Asia Festival 2007 di Osaka, Jepang, Malaysia menggunakan lagu Indang Bariang sebagai budaya Malaysia.

Pada saat mengirim nota protes ke Kebudayaan Malaysia, kata Jero, Menteri Kebudayaan Malaysia mengatakan Malaysia menanggapi secara serius. Bahkan sengketa budaya ini dibahas dalam sidang kabinet Malaysia. “Menteri Pariwisata Malaysia kemudian diperingatkan untuk tidak menggunakan budaya Indonesia untuk komersial, tanpa izin,” ujar Jero.

Selanjutnya, terdapat Pertemuan Bilateral antara Indonesia dengan Malaysia, termasuk Presiden SBY dan PM Mohammad Najib. Pertemuan bilateral itu menggagas eminent persons group, yaitu grup yang terdiri dari para ahli untuk menangani kasus sengketa budaya Indonesia – Malaysia. Ternyata semua kesepakatan itu dilanggar oleh Malaysia.

Mungkin lantaran sikap Malaysia yang seenaknya itulah membuat budayawan asal Bali, Putu Wijaya, menilai Malaysia menantang Indonesia. “Ini sudah beberapa kali kejadian. Itu sama saja menantang, kenapa itu terus dilakukan,” ujar seniman senior Indonesia itu.

Putu menilai, tindakan Malaysia ini sangat mengganggu masyarakat Indonesia. Insiden yang terjadi berkali-kali itu sudah dianggap menantang dan mempermainkan perasaaan rakyat Indonesia. “Ini bukan hanya masalah budaya. Kami tersinggung,” kata pria yang banyak meraih penghargaan di bidang seni dari berbagai instansi ini.(*)

Bacaan Terkait:

balik lanjut depan
Subscribe

Fans Box

adada-ja on Facebook

  © adanugi templates

baby
Photobucket