TERIMA KASIH atas kunjungan ANDA *** adada-ja merupakan blognya nugi *** blog ini bertujuan untuk berbagi dan semoga bermanfaat *** serta SORRY pada semua jika isi pada blog ini banyak yang mengandung copy-paste *** JANGAN LUPA BERKUNJUNG KEMBALI YAH... :)

Google Search
Welcome to my Blog

Join ke FACEBOOK saya?? Silahkan klik Animasi Imagenya
atau mau Chating dengan saya, klik icon YM-nya
silahkan follow @adanugi


Mau Tau Rahasia Bisnis Hebat? Buruan GRATIS Lho!! KLIK DISINI

Mengenal 6 Sosok Capres-Cawapres lewat Pidato maupun Dialognya



Wah lama juga nih ayaS ga update isi blog ayaS adada-ja Tempatnya Berbagi & Bermanfaat. Gak terasa sekarang sudah bulan Juni dan bulan depan tepatnya 8 Juli 2009 Bangsa ini akan menentukan arah dan tujuan negeri ini untuk 5 tahun ke depan dengan memilih Pemimpin Bangsa ini Presiden dan Wakilnya. Wah kata-kata ayaS yang barusan sudah seperti presenter atau pengamat plitik belum yah... Walking-walking on the blog guna ayaS mencari referensi buat pilpres Juli nanti ahirnya ayaS terdampar di alam nusantaraku garapannya bang ech.wan dan bagus juga nih buat dijadikan referensi sobat blog sebelum menentukan pilihannya nanti pada pilpres Juli yang hanya tinggal menghitung hari, wah itu kaya judul lagunya KD atau Jamrud yah... wkwkwkw...jangan-jangan ayaS yang salah lagi nebak judul laguya (alah kok malah nglantur sih)

Ya sudah ayaS lanjutin yah, menurut Prof. Tjipta Lesmana dalam salah satu wawancara di TV One sekitar sebulan yang lalu, ia menilai 6 sosok calon pemimpin ini dalam dua kategori “selalu bersembunyi menjaga citra” [high context-high profile] atau jaim dan invers-nya adalah yang berbicara apa adanya [low context - low profile]. Berikut urutan dari yang paling “jaim” hingga yang paling low context:

1. Megawati
2. SBY
3. Boediono
4. Wiranto
5. Prabowo
6. Jusuf Kalla

Meskipun Megawati cenderung menggunakan bahasa yang sederhana, namun menurut Prof. Tjipta, keengganan Megawati berbicara dan selalu diam membuat ia masuk dalam kategori high context. Megawati hampir jarang berbicara blak-blakan, kondisi yang sangat berbeda dengan Jusuf Kalla.

Dari Presiden Soekarno hingga SBY, sosok yang paling low context yang berbicara apa adanya adalah BJ Habibie. Soekarno dan Gus Dur masuk dalam kategori yang hampir sama, yakni low context. Sedangkan Presiden Soeharto, SBY dan Megawati masuk dalam kategori high-context atau “jaim”. Tiga presiden ini lebih menjaga image dan menyembunyikan sesuatu daripada berbicara apa adanya.

=========

Pada kesempatan lain, Laboratorium Psikologi UI mengenai tingkat intelektualitas para capres-cawapres memaparkan hasil penelitiannya di Metro TV yang dibawa oleh presenter Maria Kalaj. Hasil penelitian tersebut didasarkan oleh pengamatan/analisis isi pidato, gesture ketika berpidato, berbicara di forum, serta hasil kuisioner. Ada banyak segmen penilaian hasil penelitian Lab. Psikologi UI ini. Kebetulan saya hanya ingat 3 kategori penilaian yakni:

Urutan sosok yang paling cerdas dalam visioner (intelektualistas-visoner) :

1. Jusuf Kalla
2. SBY
3. Boediono
4. Prabowo
5. Wiranto
6. Megawati

Jadinya, mereka yang paling visioner dalam membawa visi-misi Indonesia yang mudah direalisasikan adalah Jusuf Kalla. Sedangkan yang kurang memiliki visi adalah Megawati.

Urutan sosok yang paling baik dalam pengendalian emosi (emotional/anger management) :

1. Boediono
2. Wiranto
3. SBY
4. Jusuf Kalla
5. Prabowo
6. Megawati

Jadinya, mereka yang paling baik dalam mengendalikan emosi adalah Boediono. Sedangkan yang paling buruk, lagi-lagi Megawati.

Urutan sosok yang paling ambisius prestasi untuk menjadi pemimpin :

1. Prabowo
2. SBY
3. Boediono
4. Jusuf Kalla
5. Wiranto
6. Megawati

Jadinya, mereka yang ingin menjadi presiden/wapres dengan ambisi program-program terbaik mereka membawa perubahan besar sebagai prestasi adalah Prabowo. Dan kembali, Megawati berada diurutan terakhir.

Dari hasil penelitian Lab Psikologi UI, saya mendapat satu kesimpulan yakni “ternyata Megawati menjadi Presiden tidak membawa visi yang besar untuk perubahan“. Ini mengindikasikan bahwa Megawati menjadi presiden karena desakan orang dalamnya. Hal yang berbeda dengan Prabowo, yang mana ambisi ia mewujudkan 8 aksi ekonomi kerakyatanya dengan menjadi presiden merupakan kebutuhan mendesak.

=========

Dari 4 kategori umum tersebut, sosok manakah yang akan Anda pilih?

* Yang berbicara jujur apa adanya (low context) atau high context dengan ‘kejaim-annya”?
* Sosok yang visioner, emosional atau ambisius prestasinya?

Jangan lupa ikuti polling pilpres pada blog ini, silahkan vote.


Bacaan Terkait:

0 komentar:

balik lanjut depan
Subscribe

Fans Box

adada-ja on Facebook

  © adanugi templates

baby
Photobucket